Perjalanan Panjangku Menggapai Mimpi Seorang Penulis (Novel Terbit dan Terpajang di Toko Buku Seluruh Indonesia)
Hai, aku Pie! (Dibaca "Pay" yaa, bukan P-i-e!) Dan ini adalah cerita perjalananku menggapai cita-cita menjadi seorang penulis yang karyanya terbit mayor dan tersebar di seluruh toko buku nasional.
Pertama.
Dari SD aku sudah suka membaca, baik komik, buku cerita anak, buku sejarah, maupun buku paket bahasa yang ada di sekolah. Selain membaca, aku juga suka menggambar, tapi karena fasilitas yang kurang memadai aku akhirnya melepaskan hobi yang satu itu tanpa berat hati.
Kedua.
Boys Before Flower (drama Korea), Ketika Cinta Bertasbih (Novel dan Film Indonesia), dan Cinta Cenat-Cenut (Drama Indonesia). Kalau diingat-ingat lagi, aku mulai tertarik menulis setelah melahap habis ketiga karya fenomenal yang kusebutkan tadi. Awalnya dari menulis puisi saja, kemudian berlanjut menulis diari harian, cerpen, sampai nekat menulis naskah drama dengan tulisan tangan.
Bayangin nulis naskah drama Cinta Cenat-Cenut yang jumlahnya belasan episode pakai tangan, didukung dengan pulpen dan buku harga seribuan. Maklum, tahun 2011-2013 aku belum bisa mengaplikasikan Microsoft word dan di rumah hanya ada satu laptop milik Kakak yang nggak boleh disentuh oleh siapa pun selain empunya.
Sayangnya karya-karya bersejarah itu tidak selamat dari pengepul barang bekas langganan ibu. 
Satu buku jurnal yang kuisi dengan naskah drama dan cerpen, meski selamat dari pengepul langganan Ibu, tapi kondisinya sangat memprihatinkan, jadi intip sedikit aja yaa.
Ketiga.
Di antara tahun 2014-2015, waktu itu aku duduk di bangku kelas satu SMA semester akhir. Dengan bermodal tekad dan alasan "hobi sekaligus bercita-cita manjadi penulis" aku meminta izin pada kepala sekolah untuk mengikuti lomba cipta cerpen pelajar yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten, kebetulan aku mendapatkan info tersebut di mading sekolah. Setelah itu aku dibimbing oleh guru bahasa Indonesia dari dasar. Aku mulai belajar menyalin tulisan dari buku tulis ke Microsoft word, belajar membuat outline, memperbaiki tanda baca, sampai pada tahap mengeksekusi ide menjadi sebuah karya atau cerita.
Berkat dukungan dan bimbingan dari kepala sekolah, guru bahasa, dan teman-temanku waktu itu aku akhirnya berhasil menyelesaikan cerpen religi khas anak pondok pesantren berjudul "Cinta dalam Diam."
Bisa dibilang tahun 2015 adalah tahun bersejarah untukku. Titik balik berharga yang membuat aku ingin terus menulis meskipun semakin lama tantangan yang kuhadapi semakin beragam. Cerpen "Cinta dalam Diam" terpilih menjadi salah satu naskah terbaik dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi bersama karya penulis terpilih lainnya.